Love Out Loud Asia, aplikasi pencari jodoh yang ingin mengajak pasangan berkencan secara offline

Senang rasanya melihat finalis Startup Arena kami sebelumnya bisa bertumbuh, dan kemudian kembali mengikuti kompetisi ini. Setelah enam bulan, tim Triibe kembali bersaing di panggung Startup Arena Jakarta 2013, tapi dengan membawa sesuatu yang berbeda. Tim ini sekarang mengubah sebagian besar fokusnya ke perusahaan baru bernama LOLA, atau Love Out Loud Asia, sebuah aplikasi pencari jodoh yang dibuat untuk masyarakat Asia.

Kami sempat meliput aplikasi tersebut beberapa minggu lalu. Aplikasi tersebut mengajak mereka yang single untuk mencari pasangan, membuat ide kencan secara online, dan kemudian berkencan secara langsung dengan seseorang (bukan melalui Facebook). Aplikasi ini punya formula yang mengirimkan jodoh yang cocok dengan Anda berdasarkan sejarah, informasi Facebook, teknologi pengenalan gambar, dan ide kencan Anda.

Unik berkat teknologi pengenal gambar

Co-founder Kenneth Lim dengan bangga mempersembahkan perusahaan barunya, dan mengatakan bahwa selain punya teknologi pengenal gambar, LOLA lebih unik dibandingkan aplikasi pencari jodoh online lainnya karena memiliki keyakinan bahwa mereka yang single seharusnya menghabiskan lebih banyak waktu berkencan secara offline daripada online. Ia menjelaskan:

Kami menganggap bahwa fokus kami ada pada upaya agar pengguna kami benar-benar berkencan secara nyata daripada melakukan “aktivitas online”. Karena itulah kami memiliki fitur ide kencan. Kami perlahan akan mengarahkan upaya kami ke pengembangan produk lengkap yang melayani para single, pasangan, dan penjual.

LOLA akan mengarah ke social commerce

Kenneth menambahkan bahwa perkembangan natural startup ini adalah melayani pasangan dengan ”datebook” yang memilih dan menyaring aktivitas kencan yang bagus yang bisa dilakukan oleh pasangan. Ia menambahkan:

Kami ingin punya model bisnis yang tidak hanya fokus pada pasar online, tapi juga mencari kesempatan e-commerce sosial di mana pasangan dan penjual bisa berpartisipasi di dalamnya.

Ia mengatakan bahwa timnya akan punya kesempatan sukses yang besar jika berhasil membangun produk yang inovatif dan komunitas yang kuat yang berjalan di atas konsep “melakukan kencan yang hebat.”

Sejauh ini, startup ini punya pengguna di beberapa kota seperti Singapura, Manila, Jakarta, dan Kuala Lumpur. Pesaing LOLA yang bergerak di bidang yang sama antara lain Noonswoon, Avalable, Hey, dan Paktor.

Di Startup Arena, Suzuki dari Global Brains menanyakan apakah timnya ingin melakukan ekspansi ke Jepang. Kenneth menjawab timnya ingin fokus di Singapura terlebih dahulu sebelum berekspansi ke pasar Asia lainnya. Saemin Ahn dari Rakuten Ventures berkomentar bahwa startup ini seharusnya mempertimbangkan apakah pengguna masih akan menggunakan layanan ini jika ia putus ataupun menjalin hubungan serius dengan pasangannya, dan meminta tim LOLA untuk berhati-hati ketika membangun UX. Jimmy Rim dari K Cube Ventures juga menekankan pentingnya menyediakan lebih banyak profil wanita cantik di LOLA, dan Kenneth menjawab bahwa hal tersebut bersifat pribadi karena terkadang ada beberapa wanita yang tidak ingin memperlihatkan profilnya ke orang banyak. Khaille dari 500Startups mengatakan bahwa tim LOLA memerlukan strategi pertumbuhan yang tepat untuk rencana ekspansi mereka nantinya.


Ini adalah bagian dari liputan Startup Asia Jakarta 2013 kami yang diadakan pada tanggal 21 dan 22 November. Untuk presentasi startup lainnya, lihat di sini. Anda juga bisa mengikuti perkembangan event ini di Twitter (@TechinAsia_ID), dan di halaman Facebook kami.


Post Love Out Loud Asia, aplikasi pencari jodoh yang ingin mengajak pasangan berkencan secara offline muncul terlebih dahulu di Tech in Asia Indonesia.
Loading...

Friend's Activity