Kasus Florence Sihombing terlalu dibesar-besarkan

By Enricko Lukman | Small Business

florence sihombing

Beberapa waktu ini dunia internet Indonesia dihebohkan oleh seseorang bernama Florence Sihombing (gambar di kanan) yang berdomisili di Yogyakarta. Ia memposting status yang menyinggung orang Jogja melalui akun pribadinya di Path, dan hal itu sudah berbuntut panjang. Terlalu panjang.

Sebagai konteks, Florence dikabarkan masuk ke jalur antrian mobil saat ingin mengisi bensin motornya di SPBU. Petugasnya tidak mengijinkan Florence mengisi bahan bakar motor di antrian mobil, dan memintanya untuk kembali ke antrian motor. Florence yang menjadi kesal akan hal ini meluapkan kemarahannya di Path, mengatakan bahwa orang Jogja “miskin, tolol, dan tak berbudaya”. Seseorang lalu mengambil screenshot statusnya dan menyebarkannya ke media sosial.

Dari situ persoalan berbuntut panjang, hingga Florence di-bully di media sosial, diadukan ke pihak kepolisian, dan bahkan Universitas Gajah Mada (UGM) selaku tempat Florence menimba ilmu sedang mempertimbangkan untuk memberikan sanksi akademis kepadanya.

Ini semua sudah terlalu berlebihan.

Florence hanya memposting sebuah status di media sosial. Memang benar status itu telah membuat banyak orang Jogja tersinggung, tapi Florence tidak pantas mendapatkan semua perlakuan buruk di atas.

Bully di media sosial

Pertama, apakah mem-bully Florence di media sosial itu hal yang benar untuk dilakukan? Undang-Undang Dasar pasal 28 Indonesia melindungi kebebasan berpendapat setiap rakyatnya, jadi Florence tidak melakukan kesalahan saat ia memposting status kontroversial tersebut di media sosial.

Dalam hal ini, sebenarnya sah juga untuk netizen lainnya mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap status Florence. Tapi sebelum Anda melakukan hal yang sangat jauh seperti Ilham Se – seorang pengguna Facebook yang “merasa” Florence telah mempermalukan Kenotariatan UGM, keluarganya, marga Sihombing, dan semua teman-temannya yang lalu berencana memasang foto-foto Florence di mading sekolah – sebaiknya mereka tidak langsung mengambil kesimpulan dan main hakim sendiri.

Itu sudah terlalu jauh, apalagi apabila Anda belum mempunyai bukti dan konteks cukup dari kasus yang terjadi.

Baca juga: Trending: Kau yang Berasal dari Bintang jadi buah bibir di Twitter

Jangan terlalu gampang percaya media Indonesia yang kadang mencari sensasi dari pemberitaannya untuk mendapatkan pembaca tambahan. Florence sendiri mengatakan – melalui pengacaranya Wibowo Malik – bahwa ia hendak mengisi bahan bakar Pertamax 95 yang hanya disediakan di jalur mobil. Ia juga menjelaskan bahwa saat itu dirinya sedang dalam keadaan sakit sehingga memprioritaskan solusi tercepat untuk mengisi bensin. Itu merupakan klarifikasi atas pemberitaan media massa yang dinilai Florence sudah salah.

Intinya, tidak ada yang benar tahu apa yang terjadi di SPBU. Dan berhubung tidak ada bukti dan konteks yang benar 100 persen atas hal itu, maka Anda bisa saja malah melakukan tuduhan yang salah terhadap Florence hingga ia stres dan menutup akun Facebook dan Twitternya.

Diadukan ke pihak kepolisian

Ini cukup parah. LSM Jangan Khianati Suara Rakyat (Jati Sura) telah secara resmi melaporkan Florence ke pihak kepolisian. Dasarnya, menurut advokat Ahmad Nurul Hakam ialah UU ITE yang melarang orang melakukan penghinaan, pencemaran nama baik, dan provokasi mengkampanyekan kebencian.

Ketiga hal di atas merupakan sesuatu yang subjektif. Ada orang yang akan merasa terhina dan nama baiknya tercemar oleh ucapan Florence, namun ada juga yang akan mengabaikannya. Provokasi pun juga mirip, ada sejumlah orang yang tidak akan terprovokasi oleh status Path orang asing yang mereka tidak kenal. Namun ada juga yang akan terprovokasi sebegitu mudahnya oleh tulisan beberapa kalimat saja di internet, tanpa mengindahkan konteks yang masih tidak jelas, mana yang benar dan salah.

Seharusnya, hal yang lebih dewasa saat Anda “terhina, merasa nama baik tercemar, dan terprovokasi” ialah dengan memberikan fakta dan argumen yang bisa melawan status Florence. Jelaskan sanggahan Anda dengan membawa data mendukung kepada Florence, buatlah diskusi yang baik dengan kepala dingin. Bukan dengan meneror.

Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti pun menghimbau masyarakat untuk tetap menjaga toleransi. Ia berharap agar warga tidak melakukan respons yang terlalu berlebihan terkait kasus Florence, melainkan menanggapinya secara santun dan tidak mengancam.

Lagipula, apakah benar secara universal bahwa pernyataan Florence itu salah? Apakah memang benar seluruh warga Jogja adalah orang kaya, pintar, dan berbudaya? Sekali lagi, ini adalah pernyataan yang tidak sepenuhnya salah mengingat Florence sendiri mungkin memiliki landasan pernyataan itu berdasarkan pengalamannya tinggal di kota Yogyakarta.

Apabila Florence benar dinyatakan bersalah karena ia telah melakukan provokasi mengkampanyekan kebencian, maka warga lainnya yang juga ikut menebarkan “benih kebencian” ini – baik dengan membuatkan gerakan #UsirFlorenceDariJogja. dengan membuat akun palsu dirinya, atau dengan menyebarkan screen shot status Florence – juga harus ikut ditindak oleh pihak kepolisian. Apabila gerakan membuat status di Path bisa dibilang melakukan kontroversi, maka gerakan kecil lainnya di media sosial terkait hal itu bisa ikut berujung ke pengadilan.

florence-sihombing-minta-maaf-2

Sumber: Kaskus

Florence sudah meminta maaf atas pernyataannya di media sosial. Apakah pihak Jati Sura akan menerima dengan lapang dada permintaan maaf tersebut? Atau mereka akan bersikeras ingin menghukum Florence dengan gugatan pidana penjara?

Polisi dan masyarakat pun juga sebaiknya memilih prioritas mereka lebih baik dalam memilih kasus untuk disengketakan. Contohnya, banyak pemberitaan tidak benar dan kegiatan pencemaran nama baik yang berlangsung saat pemilu presiden kemarin. Jati Sura tampaknya tidak mempermasalahkan hal itu hingga melaporkannya ke polisi. Padahal pencemaran nama baik itu lebih krusial dan penting karena menyangkut pemimpin bangsa selanjutnya, dibandingkan oleh kasus yang menyangkut seorang warga yang sedang “ngambek”.

Sanksi pendidikan

Pihak UGM memanggil Florence pada Senin ini untuk meminta klarifikasi seputar persoalan statusnya. Rektor UGM, Mada Pratikno, mengatakan bahwa mereka akan mendiskusikan sanksi yang akan diberikan kepada Florence dengan komite etik fakultas. Ia dinilai telah mencemarkan nama baik almamater.

Pihak universitas memiliki peraturannya sendiri terkait para mahasiswanya jadi kami tidak akan banyak berkomentar akan hal ini. Namun Heribertus Jaka Triyan A., seorang dosen UGM, tampaknya sudah mengambil sikapnya sendiri cukup dengan membaca berita dari media. Bukannya menunggu klarifikasi dari Florence terlebih dahulu, ia sudah menanyakan usul netizen di akun Facebooknya tentang sanksi apa yang sebaiknya dilontarkan pihak kampus kepada Florence (di bagian komentar di bawah).

Di saat seperti ini, seharusnya pihak dosen selaku orang yang lebih bijaksana dan memiliki wewenang bisa memberikan contoh baik dengan mengajak para muridnya untuk juga tidak langsung menghakimi seseorang. Paling tidak, ia tidak perlu “mengarahkan” opini masyarakat dengan langsung meminta usulan hukuman yang tepat kepada Florence. Sebagai dosen dari universitas papan atas di Indonesia, Pak Heribertus sendiri harus lebih berhati-hati saat mengutarakan pendapatnya di media sosial.


Ini bukan pertama kalinya rakyat Yogyakarta melaporkan seseorang ke pihak kepolisian karena dinilai telah melakukan penghinaan. Tahun 2011, George Junus Aditjondro dilaporkan ke kepolisian karena dianggap menghina masyarakat dan Keraton Yogyakarta, peristiwa serupa terjadi baru-baru ini dimana Paguyuban Petani Lahan Partai dianggap menghina Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Apakah ini merupakan indikasi bahwa masyarakat Indonesia masih belum cukup dewasa untuk mendengarkan opini orang lain dalam kegiatan berdemokrasi? Daripada langsung merasa terhina, masyarakat sebaiknya melawan opini dan pendapat seseorang dengan pendapatnya sendiri, tidak perlu langsung melaporkan ke pihak kepolisian.

Dan apakah menurut Anda respon terhadap status Florence memang terlalu berlebihan? Berikan pendapat Anda di kolom komentar di bawah!

Sejumlah opini diambil dari pendapat pengguna Facebook Boby Andika Ruitang

(Sumber gambar thumbnail: uniqpost)

(Diedit oleh Herry Rizal dan Krisna Wijaya)

Subscribe to our mailing list
* indicates required
Small Business Services